Latest Post

Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

Pemahaman lebih dalam tentang Parasit Toxoplasma Gondii

Written By s'sinta on Sabtu, 28 Januari 2012 | 06.55


Gambar Parasit Toxoplasma Gondii

Toxoplasma gondii adalah hewan bersel satu yang disebut protozoa. Protozoa ini merupakan parasit pada tubuh hewan dan manusia. Toxoplasmosis dikategorikan sebagai penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia.

Tiga bentuk Toxo yang terdapat dalam siklus hidup toxoplasma, memegang peranan sangat penting dalam proses infeksi dan penyebaran Toxoplasma. Yaitu Ookista (Oocyst), Bradizoit (Bradyzoite) dan Takizoit (Tachyzoite). Sebagian besar Toxoplasma berada dalam ketiga bentuk ini.

Bradizoit dan takizoit (keduanya kadang disebut cysts) adalah bentuk toxoplasma yang terdapat dalam tubuh sebagian besar hewan dan manusia.

Gambar Ookista (Oocyst)Gambar Bradizoit (Bradyzoite)
atau tissue cyst
Gambar Takizoit (Tachyzoite)
yang menginfeksi tikus

Gambar Toxoplasma Gondii Takizoit (Tachyzoite)

Seperti juga sebagian besar protozoa, Toxoplasma bisa berkembang biak melalui dua cara, yaitu cara seksual (gametogoni) dan akseksual (endodyogeni). Aseksual artinya, toxoplasma berkembang biak dengan cara membelah diri. Sedangkan Fase berkembang biak secara seksual hanya terjadi di usus kucing. Toxoplasma yang terdapat dalam usus kucing berkembang dan menghasilkan dua sel kelamin berupa makrogamet dan mikrogamet. Kedua sel gamet tersebut melakukan penggabungan inti sel (pembuahan) dan menghasilkan sporogoni yang kemudian di keluarkan melalui feces kucing. Dalam waktu 24 jam Sporogoni yang berada di lingkungan, berkembang menjadi bentuk infektif Ookista. Ookista bisa tahan hingga 6 - 12 bulan di tanah/lingkungan yang lembab dan terlindung dari sinar matahari.

Ookista yang tertelan oleh hewan seperti anjing, domba, tikus, ayam, kambing, sapi, babi, kucing, dsb, kemudian berkembang menjadi Takizoit atau bradizoit dalam sel/jaringan. Ookista akan segera berkembang 18 hari setelah masuk ke dalam tubuh semua mahluk/hewan berdarah panas (sapi, anjing, ayam, burung, kucing, domba, tikus, babi, dsb) dan manusia.

Hewan pemakan daging dan manusia bisa tertular toxoplasma bila memakan daging yang mengandung Takizoit atau Bradizoit yang masih aktif/hidup.

Bradizoit dan Takizoit hanya bisa dihasilkan oleh toxoplasma yang hidup di jaringan/daging. Takizoit akan mulai berkembang 19 hari setelah manusia/hewan memakan jaringan/daging yang mengandung Takizoit. Sedangkan Bradizoit lebih cepat. Bradizoit mulai berkembang dalam waktu 3-10 hari sejak manusia/hewan memakan jaringan/daging yang mengandung bradizoit.

Pada wanita hamil, tachyzoit bisa menginfeksi janin. Tachyzoit menempati jaringan otot dan sistem syaraf seperti otak, kemudian berubah menjadi bradizoit. Bradizoit dalam daging yang tidak masak, bila termakan kembali berubah menjadi tachyzoit dan memulai siklus memperbanyak diri lagi. (kucing.biz)

Gambar Siklus hidup dan penularan Toxoplasma Gondii  

Cara Mencegah Toxoplasma

Pencegahan secara umum

  • Segera periksakan diri anda, apakah positif toxoplasma atau tidak. Terutama para wanita atau wanita yang mempunyai rencana untuk hamil. Tes darah bisa dilakukan di beberapa laboratorium diagnostik seperti Prodia. Konsultasikan hal ini dengan dokter anda.
  • Masak daging dengan sempurna, minimal dengan suhu 70 derajad celcius.
  • Cuci tangan dan semua peralatan dengan sabun, setelah anda mengolah (memotong) daging.
  • Cuci buah-buahan dan sayuran dengan bersih.
  • Biasakan mencuci tangan dengan sabun sebelum anda makan sesuatu.
  • Gunakan sarung tangan pada saat berkebun atau kontak dengan tanah. Tanah yang terkontaminasi toxoplasma adalah sumber infeksi yang potensial.

Pencegahan pada Ibu hamil

Agar ibu hamil terhindar dari infeksi toksoplasmosis, ikuti langkah-langkah pencegahan infeksi sedini mungkin sbb :

  • Binatang/hewan piaraan yang ada di rumah (anjing, kucing, hamster, domba, dsb) segera bawa ke dokter hewan, untuk mengetahui apakah binatang peliharaan anda terinfeksi parasit toksoplasma secara aktif ataukah tidak.
  • Apabila hewan piaraan tersebut terlihat sakit, mungkin masih dalam masa penularan selama kurun 6 minggu sebaiknya dititipkan ke tempat penitipan binatang, sampai hewan tersebut sembuh.
  • Jangan berikan makanan daging mentah atau ikan mentah kepada binatang peliharaan anda. Itu juga berarti, jangan biarkan binatang peliharaan anda memburu mangsanya sendiri di luar rumah.
  • Karena anda sedang hamil, maka jangan mengadakan kontak langsung, baik dengan kandang maupun kotoran hewan piaraan. Mintalah orang lain untuk membersihkannya. Jika terpaksa harus membersihkan sendiri, pakailah sarung tangan, dan cucilah tangan Anda sampai bersih. Jangan lupa untuk membersihkan kandang kucing setiap hari.
  • Hindari mengkonsumsi daging mentah maupun daging setengah matang.
  • Hindari minum susu yang belum disterilkan.
  • Cuci sampai bersih sayuran dan buah-buahan sebelum Anda konsumsi.
  • Segeralah konsultasi ke dokter bila Anda kemungkinan terinfeksi parasit toksoplasma.


Pencegahan pada hewan peliharaan

  • Periksakan hewan peliharaan/kesayangan anda ke dokter hewan, dan mintalah untuk dites khusus toxoplasma, sehingga mengetahui apakah hewan peliharaan anda (anjing, kucing, hamster, domba, dsb) terinfeksi parasit toksoplasma secara aktif ataukah tidak.
  • Hewan yang positif terinfeksi toxoplasma harus diberi obat. Obat yang diberikan biasanya berupa antibiotik clyndamicin. Konsultasikan hal ini dengan dokter hewan anda.
  • Jangan berikan makanan daging mentah atau ikan mentah kepada binatang peliharaan anda. Itu juga berarti, jangan biarkan binatang peliharaan anda memburu mangsanya sendiri di luar rumah.
  • Hewan peliharaan yang mengkonsumsi makanan komersial berupa makanan kering atau kalengan dan selalu berada di dalam rumah, sangat jarang bahkan tidak akan pernah terinfeksi toxoplasma.
  • Bersihkan kotak litter pasir/kotoran hewan peliharaan anda setiap hari.
  • Cegah hewan peliharaan anda kontak dengan hewan liar atau hewan lain di luar rumah anda, kecuali anda sudah mengetahui kesehatan hewan lain tersebut.
  • Selalu jaga kebersihan dan kesehatan hewan kesayangan anda.

Referensi : drh. Neno Waluyo S.

from : kucing.biz

_____sincerely_____ 

Cara Penularan Toxoplasma pada Manusia dan Hewan serta Apa Akibatnya, Bagaimana Gejalanya ?

Apakah Toxoplasma dan Toxoplasmosis itu ?
Toxoplasma atau Toxoplasma gondii adalah hewan bersel satu yang sering juga disebut protozoa. Toxoplasma merupakan parasit yang dapat menginfeksi hewan dan manusia. Jadi Toxoplasma bukan virus, melainkan parasit.

Toxoplasmosis adalah nama penyakit pada hewan dan manusia yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii. Toxoplasmosis dikategorikan sebagai penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia.
Siapa saja yang dapat terinfeksi toxoplasma ?
Semua orang dapat terinfeksi toxoplasma.
Laki-laki dan perempuan, balita, anak-anak, remaja, orang muda, dewasa, maupun lanjut usia, semuanya dapat terinfeksi toxoplasma.
Hewan apa saja yang dapat menularkan toxoplasma ke manusia ?
Semua hewan berdarah panas dapat terinfeksi dan menularkan toxoplasma kepada manusia.

Hewan yang sering berada di sekitar manusia seperti sapi, kuda, tikus, domba, anjing, kucing, ayam, burung, babi dll juga dapat terinfeksi toxoplasma. Satwa liar seperti musang, harimau, anjing hutan, dll juga dapat terinfeksi toxoplasma.
Bagaimana Manusia dapat Tertular Toxoplasma ?
Terdapat 2 cara manusia dapat tertular Toxoplasma, yaitu : 

  • CARA PENULARAN PERTAMA :

    Cara pertama merupakan penularan terbanyak, yaitu manusia memakan daging yang mengandung toxoplasma hidup.

    Yang dimaksud adalah : Manusia tertular toxoplasma akibat memakan daging mentah atau daging setengah matang atau daging yang tidak dimasak dengan sempurna, dimana daging tersebut mengandung Toxoplasma. Untuk mencegah hal ini maka masaklah daging dengan sempurna, minimal dengan suhu 70 derajat celcius.
  • CARA PENULARAN KEDUA

    Cara penularan kedua adalah manusia "tanpa sengaja" menelan/memakan telur/kista toxoplasma.

    Hal ini dapat terjadi bila manusia memakan buah-buahan atau sayuran TANPA DICUCI dengan bersih, dimana pada buah-buahan atau sayuran tersebut menempel telur toxoplasma (biasa disebut kista toxoplasma).

    Bisa juga terjadi bila manusia setelah berkebun, tidak mencuci tangannya dengan bersih, kemudian memakan sesuatu. Padahal ditangannya menempel telur/kista toxoplasma, dan toxoplasma tersebut menempel di makanan yang dipegangnya.

    Penularan seperti ini peluangnya relatif kecil, namun demikian tidak boleh diabaikan.

    Untuk mencegahnya, tentu saja membiasakan diri untuk mencuci bersih buah-buahan atau sayuran tersebut sebelum dimakan. Kemudian setelah berkebun, jangan lupa untuk mencuci tangan dengan bersih.
  • CARA PENULARAN KETIGA

    Cara penularan ketiga adalah melalui transplantasi organ tubuh manusia.

    Hal ini dapat terjadi bila organ tubuh yang ditransplantasi terinfeksi parasit toxoplasma dalam keadaan hidup. Namun sangat jarang (bahkan hampir tidak pernah terjadi) penularan yang seperti ini, karena umumnya organ tubuh tersebut telah diperiksa dengan seksama oleh dokter. Walaupun peluangnya nyaris nol (kecil sekali), tetap tidak boleh diabaikan.

Jadi, secara ringkas bahwa penularan toxoplasma terjadi jika manusia "memakan/menelan" toxoplasma dalam keadaaan hidup.

Terdapat 3 bentuk toxoplasma yang dimaksud, yaitu berupa Bradizoit (Bradyzoite atau tissue cyst), Takizoit (Tachyzoite), dan kista/telur toxoplasma (Oocyst).

Bagaimana gejala manusia yang terinfeksi toxoplasma ?
Sebagian besar manusia yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala sama sekali (subklinis). Meskipun jarang terjadi, pada infeksi yang akut dapat mengakibatkan pembengkakan kelenjar pertahanan (limfoglandula) yang terdapat disekitar leher, ketiak, dsb, namun sekali lagi ini jarang terjadi.
Apa akibat toxoplasma pada hewan
Sebagian besar infeksi toxoplasma pada hewan bersifat sub klinis (ringan dan tidak menunjukkan gejala sama sekali). Namun pada infeksi yang parah dapat menyebabkan diare dan cacat pada fetus kucing atau hewan lainnya
Bagaimana akibat toxoplasma pada manusia
Secara umum akibat toxoplasma jarang sekali, dan hanya terjadi pada infeksi akut toxoplasma.

Pada pria, infeksi akut toxoplasma dapat menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening. Bila berlangsung terus-menerus dapat menyebabkan kemandulan. Infeksi akut toxoplasma menyebabkan peradangan pada saluran sperma. Radang yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya penyempitan bahkan tertutupnya saluran sperma. Akibatnya pria tersebut menjadi mandul, karena sperma yang diproduksi tidak dapat dialirkan untuk membuahi sel telur.

Pada wanita, infeksi toxoplasma yang berlangsung terus-menerus dapat menginfeksi saluran telur wanita. Bila saluran ini menyempit atau tertutup, sel telur yang telah dihasilkan oleh indung telur (ovarium) tidak dapat sampai ke rahim untuk dibuahi oleh sperma.

Yang paling berbahaya adalah akibat toxoplasma terhadap Janin/fetus. Kista toxoplasma dapat berada di otak janin yang menyebabkan cacat dan berbagai macam gangguan syaraf seperti gangguan syaraf mata (buta, dll). Akibat lainnya adalah janin dengan ukuran kepala yang besar dan berisi cairan (hidrocephalus). Namun perlu diingat, penyebab hidrocephalus (ukuran kepala yang besar dan berisi cairan) ada banyak sekali, salah satunya adalah toxoplasma,

Referensi : drh. Neno Waluyo S. 

from : kucing.biz

_____sincerely_____ 

Toxoplasma dalam Angka (Hewan & Manusia)



Gambar Parasit
Toxoplasma Gondii
Toxoplasma atau Toxoplasma Gondii adalah sejenis hewan bersel satu yang sering juga disebut protozoa.
Toxoplasma merupakan parasit yang dapat menginfeksi hewan dan manusia.
Toxoplasmosis adalah nama penyakit pada hewan dan manusia yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii.

Hampir semua hewan berdarah panas dapat terinfeksi toxoplasma, dan otomatis dapat menjadi hewan yang menularkan toxoplasma. Hewan yang sering berada di sekitar manusia seperti sapi, anjing, hamster, burung, tikus, domba, kuda, kucing, ayam, babi, dsb dapat terinfeksi toxoplasma, otomatis dapat menularkannya.
Satwa liar seperti musang, harimau, anjing hutan, dsb juga dapat terinfeksi toxoplasma.

Semua orang dapat terinfeksi toxoplasma, laki-laki dan perempuan, baik muda ataupun tua dapat terinfeksi toxoplasma.

Toxoplasma tersebar luas di seluruh dunia. Setidaknya 1/3 populasi penduduk dunia pernah terinfeksi toxoplasma walaupun tidak menunjukan gejala terinfeksi toxoplasma.

Sekitar 80 % wanita Perancis yang hamil, pernah terinfeksi toxoplasma sebelum kehamilan tersebut terjadi. Tingginya persentase ini berhubungan dengan gaya hidup orang Perancis yang senang mengkonsumsi makanan yang dimasak setengah matang.

Penularan toxoplasma dari ibu ke janin anak, bisa berakibat fatal. Di Jerman, sekitar 2500 anak setiap tahun menderita akibat infeksi toxoplasma ini.

Berikut ini adalah frekuensi toxoplasmosis pada beberapa hewan yang pernah diteliti di Hongkong, Taiwan, Jakarta, dan Kalimantan Selatan.

NoTempatHewanFrekuensiPeneliti
1Hongkong- Babi
- Anjing
70,6 %
29.4 %
Ludlam Chabra
2Taiwan- Babi
- Kucing
30.5 %
27.7 %
Dufee
3Jakarta- Babi
- Anjing
- Kucing
28,0 %
76.5 %
77.7 %
Koesharyono & Gandahusada
4Kalimantan Selatan- Kambing
- Kucing
60,7 %
40,3 %
Dufee


Hewan yang terinfeksi atau pernah terinfeksi toxoplasma akan menghasilkan antibodi terhadap toxoplasma tersebut. Berikut ini hasil penelitian antibodi terhadap toxoplasma pada beberapa hewan di Amerika Serikat.

NoHewan% positif
1Anjing59 %
2Kambing48 %
3Sapi47 %
4Kucing34 %
5Babi30 %



Frekuensi Toxoplasmosis Pada Penduduk di Berbagai Daerah Indonesia

NoTempatFrekuensiPenelititahun
1Kalimantan barat3 %Cross1976
2Sulawesi tenggara8 %Clark1973
3Sulawesi utara8 %--
4Sumatera utara9 %Cross1975
5Surabaya9 %Yamamoto1970
6Jawa tengah10 %Cross1975
7Jawa barat20 %-1973
8Kalimantan selatan31 %--
9Ujung pandang60 %Rasiyanto1976

(drh. Neno Waluyo S, 2007)

Referensi :
    • Hiswani, Toxoplasmosis penyakit zoonosis yang perlu diwaspadai oleh ibu hamil. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 2003
    • Ressang A.A. Patologi Khusus Veteriner, IFAD Project, Bali 1984.
    • Schurrenberger, P.R. dan William, T.H. Dchtisar Zoonosis Penerbit ITB, Bandung, 1991.
    • Partodihardjo, S. Ilmu Reproduksi Hewan, Penerbit Mutiara. Jakarta, 1980.
    • Priyana, A Oesman P, Kresno SB. Toxoplasmosis Medika No. 12 tahun 14, 1988: 1164-1167.
    • Jacquier Patrick. http://www.roche.com.
    • Dsb-nya.

from : kucing.biz

_____sincerely_____ 

Cegah Alergi Dengan Memiliki Hewan Peliharaan

Written By s'sinta on Senin, 19 Desember 2011 | 19.33

Tak hanya bisa menghilangkan stres, studi membuktikan bahwa anak dari orang yang memiliki hewan peliharaan cenderung tidak memiliki alergi hewan.
Sebuah studi menunjukkan bahwa tahun pertama dalam kehidupan anak adalah masa penting dalam membangun sistem perlawanan tubuh, termasuk terhadap alergi. Anak-anak yang sudah memiliki kontak dengan hewan peliharaan seperti kucing dan anjing sejak kecil, akan dapat mencegahnya mengalami alergi di kemudian hari.
Dalam studi tersebut para ahli mempelajari sampel darah 600 peserta yang berusia 18 tahun, kemudian membandingkan tingkat antibodi terhadap alergen anjing dan kucing kepada peserta yang memiliki hewan peliharaan dan tidak.


Remaja yang dekat dengan hewan peliharaan sejak tahun pertama kehidupannya memiliki peluang 50 persen lebih tahan terhadap alergi anjing atau kucing dibandingkan dengan yang tidak memiliki hewan peliharaan.
“Mengekspos (mendekatkan) anak dengan kucing dan anjing di rumah tidak akan meningkatkan risiko sensitisasi ke binatang-binatang. Bahkan mungkin mengurangi risiko (alergi),” jelas Ganesha Wegienka dari departemen ilmu kesehatan masyarakat, Henry Ford Hospital, Detroit, seperti dilansir Telegraph, Rabu (15/6/2011).
Menurut Wegienka, penelitian ini membuktikan bahwa paparan dengan hewan peliharaan di awal kehidupan tidak membuat anak-anak menjadi berisiko alergi terhadap hewan di kemudian hari.
Hasil studi ini telah dipublikasikan pada jurnal Clinical & Experimental Allergy.
Alergi kucing biasanya paling umum disebabkan oleh protein dalam bentuk serpih kulit kucing dan air liur, yang mempengaruhi 40 persen dari penderita asma.
Orang yang alergi kucing atau hewan lain biasanya akan merasakan gejala seperti mata gatal, bersin, asma dan ruam kulit.

from : detikhealth.com

_____sincerely_____

3 Bentuk Toxoplasma yang Penting dalam Penyebaran

Written By s'sinta on Kamis, 24 November 2011 | 00.54

Tiga bentuk Toxo yang terdapat dalam siklus hidup toxoplasma, memegang peranan sangat penting dalam proses infeksi dan penyebaran Toxoplasma. Yaitu Ookista (OOcyst), Bradizoit (Bradyzoite) dan Takizoit (Tachyzoite). Sebagian besar Toxoplasma berada dalam ketiga bentuk ini. Ookista telah teradaptasi untuk penyebaran toxoplasma di Usus kucing dan lingkungan, sementara bradizoit dan takizoit adalah bentuk toxoplasma yang terdapat dalam tubuh sebagian besar hewan dan manusia. Untuk lebih jelas perhatikan gambar berikut.


tachyzoite, bradyzoite, oocyst toxoplasma
Seperti juga sebagian besar protozoa, Toxoplasma bisa berkembang biak melalui dua cara, yaitu cara seksual (gametogoni) dan akseksual (endodyogeni).
Aseksual artinya, toxoplasma berkembang biak dengan cara membelah diri. Sedangkan Fase berkembang biak secara seksual hanya terjadi di usus kucing. Toxoplasma yang terdapat dalam usus kucing berkembang dan menghasilkan dua sel kelamin berupa makrogamet dan mikrogamet. Kedua sel gamet tersebut melakukan penggabungan inti sel (pembuahan) dan menghasilkan sporogoni yang kemudian di keluarkan melalui feces kucing. Dalam waktu 24 jam Sporogoni yag berada di lingkungan berkembang menjadi bentuk infektif Ookista. Ookista bisa tahan hingga 6 - 12 bulan di tanah/lingkungan yang lembab dan terlindung dari sinar matahari.
Ookista yang tertelan oleh inang antara (tikus, ayam, kambing,domba,sapi,anjing,dll) kemudian berkembang menjadi Takizoit atau bradizoit dalam sel/jaringan. Pemakan daging seperti kucing, anjing, dan manusia bisa tertular toxoplasma bila memakan daging yang mengandung Takizoit atau bradizoit yang masih aktif/hidup.
Ookista hanya bisa dihasilkan di usus kucing. Ookista akan segera berkembang 18 hari setelah masuk ke dalam tubuh inang. Inang ini merupakan semua mahluk/hewan berdarah panas termasuk manusia dan kucing.
Bradizoit dan Takizoit hanya bisa dihasilkan oleh toxoplasma yang hidup di jaringan/daging. Takizoit akan mulai berkembang 19 hari setelah manusia/hewan memakan jaringan/daging yang mengandung Takizoit. Sedangkan Bradizoit lebih cepat. Bradizoit mulai berkembang dalam waktu 3-10 hari sejak manusia/hewan memakan jaringan/daging yang mengandung bradizoit.
Beberapa artikel Toxoplasma yang akan datang khusus membahas mengenai ketiga bentuk toxoplasma di atas. Ketiga bentuk toxoplasma tersebut sangat penting karena memang ketiganya memegang kunci dalam penyebaran toxoplasma.
oleh : drh. Neno Waluyo S

from : www.kucingkita.com 

_____sincerely_____

Rabies di Dunia

Masalah rabies di setiap negara sedikit bervariasi tergantung tingkat pengetahuan, kesejahteraan dan hewan penular rabies. Di negara-negara Amerika Selatan seperti Argentina, Meksiko dan Brazil, Masalah rabies berputar sekitar hewan ternak. Rabies merupakan salah satu penyakit yang berpotensial merugikan secara ekonomi. Di negara-negar tersebut penyebaran rabies terjadi melalui kelelawar penghisap darah (vampire/Desmodus rotundus) yang sering menghisap darah ternak sebagai salah satu sumber makanannya.
Di Amerika bagian Utara, sigung dan rakun menjadi masalah karena dapat menyebarkan rabies.
Sigung dan Rakun adalah dua hewan yang mempunyai dua hewan yang mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi. Mereka dapat beradaptasi dengan kehidupan kota dengan memakan sampah dan sisa-sisa makanan manusia. Oleh karena itu populasi mereka semakin membludak.
Anjing sebagai hewan sahabat bagi manusia merupakan permasalahan yang utama di berbagai negara berkembang khususnya di Asia yang mengalami masalah dalam kontrol populasi anjing liar.
Di Indonesia, hewan penular rabies utama adalah hewan domestik seperti anjing, kucing dan monyet. Sebagian besar kasus rabies di Indonesia terjadi melalui gigitan anjing liar dan anjing peliharaan.
Dalam rangka menyambut Hari Rabies Dunia yang jatuh pada tanggal 28 september, pe Pemerintah menargetkan Indonesia akan terbebas dari penyakit rabies pada 2020, target tersebut merupakan target negara-negara se-ASEAN. Setuju !....Semangat !... Ayo kita berantas Rabies !...tapi…. target bisa tercapai ga ya? Soalnya… bebas rabies perlu sumber daya biaya, tenaga dan fikiran yang sangat banyak.
Sebagai gambaran, menurut WHO, hanya sebagian kecil wilayah di dunia yang bebas rabies.

from :www.kucingkita.com

_____sincerely_____

Toxoplasma Tak Selalu dari Kucing

Written By s'sinta on Sabtu, 19 November 2011 | 23.02


cute kitten Toxoplasma Tak Selalu dari Kucing Banyak wanita — baik sedang hamil atau tidak — menghindari kucing karena khawatir terkena penyakit toxoplasmosis. Tetapi, adakah fakta-fakta yang mendukung anggapan yang sering keliru itu?
Sebuah survei tak resmi yang dilakukan terhadap sejumlah penduduk di Jakarta mengungkapkan, sebagian besar mereka hanya memiliki pengetahuan terbatas tentang fakta yang benar tentang parasit, toxoplasma dan penyakit toxoplasmosis yang diakibatkan oleh parasit itu.
Semua peserta survei mengatakan, mereka akrab dengan nama penyakit tersebut dan penyakit itu bisa berbahaya bagi bayi-bayi yang belum lahir. Namun, tak seorangpun tahu bagaimana penyakit itu ditularkan kepada manusia, atau bahwa daging merupakan sumber lain dari infeksi ini. Beberapa peserta survei mengatakan, mereka yakin jika memegang atau memelihara seekor kucing, mereka bisa tertular penyakit itu.

“Banyak orang berfikir bahkan dengan hanya menyentuh seekor kucing saja, mereka bisa tertular penyakit tersebut,” kata dr. Siti Zaenab, dokter hewan yang membuka praktek bersama suaminya, dr. Gunadi Setiadarma, di kawasan Jakarta Selatan.
“Mereka tidak berpengetahuan luas. Para wanita yang berencana menikah, datang ke tempat praktek kami khusus untuk menanyakan bagaimana mereka bisa tertular dan apakah aman untuk memelihara seekor kucing,” katanya. Menurut Siti Zaenab, ia hanya menemukan sedikit kasus toxoplasma pada kucing. Lalu, dimanakah tepatnya parasit itu berada dan seberapa mudah orang untuk tertular toxoplasma ?
Toxoplasma terdapat dalam kotoran sejumlah kucing dan daging sapi yang dimasak kurang matang. Masuknya spora-spora dari sumber-sumber tersebut ke dalam mulut anda, bisa mengarah kepada ketularan parasit tersebut. Kucing-kucing bisa terkena parasit itu karena menangkap tikus atau binatang liar lainnya. Tetapi, sulit untuk mendeteksi apakah kucing anda memiliki parasit itu, karena hewan-hewan ini jarang memperlihatkan efek-efek yang jelas pada minggu-minggu pertama penularan. Namun demikian, spora-spora bisa memancar ke dalam kotoran-kotoran kucing. Dalam sebuah kotak kotoran kucing, diperlukan waktu satu sampai lima hari sebelum spora-spora itu berkembang. Oleh karena Siti menyarankan agar kotak kotoran kucing dibersihkan setiap hari untuk mengurangi resiko tertular penyakit tersebut.
Di Amerika Serikat, menurut dr. Susan Hall dari Perkumpulan Dokter Hewan bagi Hak-hak Binatang, sebagian besar kasus penyakit itu pada manusia terjadi karena makan daging tidak matang, terkontaminasi hewan atau makan sayuran yang tidak dicuci. “Hasil-hasil penelitian menunjukkan tidak ada korelasi antara insiden toxoplasmosis dengan kepemilikan kucing,” katanya. “Tidak adil menyalahkan kucing, karena kucing dikenal sebagai “tuan rumah” yang baik.” Menurut Hall, bahkan di AS para dokter masih mengatakan kepada para wanita hamil untuk membuang kucing mereka.
Antibodi
Sedangkan menurut dr. Gunadi, wanita yang memiliki seekor kucing beberapa waktu sebelum hamil mungkin akan membangun resistensi terhadap penyakit itu melalui kedekatannya dengan kucing yang mengarah pada tumbuhnya antibodi. “Namun, jika seorang wanita sedang hamil baru memelihara seekor kucing, dia mungkin berada pada resiko tinggi,” katanya.
Para dokter menganjurkan kaum wanita untuk mengenakan sarung tangan saat memegang daging mentah, kotak kotoran kucing atau ketika berkebun. Segeralah mencuci tangan setelah itu. Sebagai suatu tindakan pencegahan, kaum wanita sebaiknya meminta dokter kandungan untuk mengambil contoh darah guna melihat apakah sudah memiliki antibodi untuk toxoplasma. Laboratorium menawarkan dua macam tes toxoplasma untuk IgG dan IgM. Tes IgG memeriksa apakah seseorang telah terkena penyakit itu di masa lalu. Sedangkan IgM mengecek apakah sekarang ada infeksi aktif dalam tubuh atau tidak.

from : kompas.com 

_____sincerely_____

Penularan Cacing Pita ke Manusia

Written By s'sinta on Sabtu, 23 Juli 2011 | 18.28

cute kitten Penularan Cacing Pita ke ManusiaKucing dikenal sebagai binatang peliharaan yang manja, salah satu karakteristiknya adalah suka dibelai. Biasakan cuci tangan setelah membelainya, sebab di balik bulunya yang lembut bisa saja ada telur cacing pita yang bisa berpindah ke tangan.
Cacing pita (Taennia) merupakan jenis cacing parasit yang banyak menginfeksi kelompok hewan bertulang belakang (vertebrata), mulai dari babi, sapi hingga manusia. Telur cacing ini sering ditularkan melalui daging binatang yang terinfeksi, namun tidak dimasak hingga matang sempurna.
Meski hanya menginfeksi vertebrata, penularan cacing pita bisa juga diperantarai oleh serangga yakni kutu anjing dan kutu kucing. Oleh karena itu, kucing, anjing dan binatang peliharaan lainnya tidak hanya menularkan cacing ini melalui daging tetapi juga lewat kutu yang ada di tubuhnya.
Tanpa adanya kutu sekalipun, cacing pita juga bisa menular saat membelai binatang peliharaan yang sudah terinfeksi. Kotoran binatang tersebut pasti mengandung telur atau larva, yang kadang-kadang menempel juga di tubuhnya apalagi jika jarang dimandikan.

Oleh karena itu cara terbaik untuk mencegah penularannya adalah dengan mencuci tangan setelah bersentuhan dengan binatang peliharaan. Langkah pencegahan berikutnya tentu saja menjaga kesehatan binatang peliharaan dengan sering-sering membersihkannya.
Amati juga kemungkinan adanya gejala-gejala infeksi cacing pita, obati sesegera mungkin jika memang ada infeksi. Bagi pecinta binatang, tidak sulit untuk mengenali gejala infeksi cacing pita pada peliharaannya berdasarkan berubahan perilaku dan penurunan berat badan.
Dikutip dari Therealowner, Rabu (22/12/2010), salah satu perilaku binatang peliharaan yang menunjukkan adanya infeksi cacing pita adalah sering menyeret pantat di lantai atau karpet. Mirip seperti cacing kremi, cacing pita juga menyebabkan iritasi di anus sehingga memicu rasa gatal di bagian tersebut.
Sementara itu berat badannya juga turun meski porsi makan tidak berkurang. Infeksi cacing pita menyebabkan sebagian besar nutrisi dari makanan yang disantap akan diserap oleh parasit dan tidak sempat diserap oleh tubuh binatang peliharaan.
Jika gejala-gejala itu sudah tampak, cara untuk memastikannya adalah mengamati adanya cacing dewasa pada kotoran atau muntahannya jika infeksi tersebut sampai menyebabkan binatang peliharaan mual-muntah. Agak menjijikkan memang, tapi itulah cara paling mudah untuk mendiagnosis infeksi cacing pita pada binatang.

from: Detikhealth.com

_____sincerely_____

Tidur Bersama Kucing

Written By s'sinta on Kamis, 19 Mei 2011 | 02.42

ready to sleep   Tidur bersama kucing   Perhatikan!
Jangan pernah membiarkan kucing Anda tidur bersama bayi atau balita yang baru saja belajar berjalan, karena dapat melukainya. Jika anak Anda sudah agak besar, perhatikan kebiasaan tidurnya. Kebiasaan sering bergerak kesana kemari selagi tidur dapat membuat takut kucing Anda. Dan apabila ia merasa terganggu, ia bisa menggeram atau bahkan mencakar dan menggigit anak Anda.
Perangai kucing Anda juga menjadi hal penting yang harus diperhatikan, karena hanya kucing yang tidak agresif sajalah yang boleh dipertimbangkan untuk menjadi teman tidur anak Anda.
Kucing biasanya bangun tidur menjelang fajar atau sekitar pukul 4 atau 5 pagi. Setelah mereka terbangun, kucing Anda ingin bermain. Apabila hal ini bukan kebiasaan normal anak Anda, maka tidur secara terpisah adalah solusi yang terbaik. Karena anak-anak kucing sangat senang bermain dan mereka akan mengejar segala sesuatu yang bergerak. Apabila yang menjadi obyek buruannya itu adalah tangan atau kaki anak Anda yang sedang tidur nyenyak, maka anak Anda bisa terbangun dari tidurnya.

Pertimbangan kesehatan lainnya adalah seringkali cacing usus yang terdapat dalam perut anak kucing menyebabkan mereka terserang diare. Tanpa induknya, anak kucing seringkali tidak tahu bagaimana membersihkan bagian bokong mereka, dan akhirnya anak Anda harus tidur dengan anak kucing yang bokongnya kotor. Walaupun kucing dewasa rajin membersihkan diri, jangan lupa bahwa hampir semua tempat bagi seekor kucing pada dasarnya adalah toilet. Jadi apabila Anda mengizinkan kucing Anda untuk tidur bersama, maka sebelum pergi tidur Anda harus membersihkan kucing Anda terlebih dahulu.
Pada beberapa anak, bisa jadi mereka alergi terhadap kucing terutama bulu-bulunya. Untuk anak Anda yang alergi, maka menjauhkan kucing Anda darinya adalah tindakan yang paling tepat.
Memang menyenangkan untuk tidur dekat dengan kucing kesayangan Anda. Tetapi sangat dianjurkan untuk Anda menyediakan tempat tidur yang terpisah atau tersendiri bagi kucing Anda. Tempat tidur ini dapat Anda letakkan dekat tempat tidur Anda atau anak Anda.
Pastikan untuk menempatkan tempat tidur kucing Anda di salah satu bagian kamar yang cukup jauh dari tempat tidur anak Anda, sehingga jika anak Anda terbangun tengah malan maka ia tidak akan turun atau mengganggu kucingnya karena hal ini dapat menyebabkan kucing Anda mencakar atau menggigit anak Anda.
Pada dasarnya tidur bersama dengan kucing Anda adalah pilihan Anda sendiri dengan mempertimbangkan berbagai sisi negatif yang mungkin saja bisa terjadi pada Anda atau anak Anda.

from : www.kittykrafty.com

_____sincerely_____

Awas Kutu Anjing atau Kucing!

Written By s'sinta on Senin, 16 Mei 2011 | 03.22

mel Awas Kutu Anjing atau KucingSeorang remaja putri datang ke klinik hewan saya dan mengeluh tentang Shih Tzu (sejenis anjing mainan)-nya menderita penyakit kulit. Gadis itu takut tertular penyakit kulit dari anjing kesayangannya. Saya menemukan peradangan kulit yang terjadi pada hampir seluruh badan anjing. Anjing yang seharusnya menarik pun saat itu terlihat gemetar dan amat menderita. “Apa penyakit kulit anjing saya dapat menulari manusia, Dok?” tanya gadis itu.
Sebagai dokter hewan, saya sering menjumpai kasus penyakit kulit pada hewan kesayangan yang biasanya lebih banyak dijumpai pada anjing, kucing liar, atau hewan peliharaan yang kurang mendapat perawatan. Penyakit kulit akan amat menjengkelkan baik bagi hewan maupun pemiliknya, dan dapat menjadi penyakit kambuhan bila tidak ditangani serius. Orang biasanya akan menelantarkan hewan kesayangannya bila penyakit kulit yang sebenarnya bisa disembuhkan, karena tidak segera ditangani dengan benar, justru menyebabkan komplikasi lebih parah.

Biasanya, sebelum penyakit kulit terjadi, lebih dahulu hewan terkena kutu yang tidak diketahui pemiliknya. Serangan kutu ditandai dengan seringnya hewan menggaruk-garuk badan. Ini tentu saja menyebalkan, bukan hanya bagi pemilik, tetapi juga hewan sendiri.
Kutu termasuk parasit di luar tubuh (ektoparasit) yang perlu dikontrol rutin oleh pemilik hewan. Mengapa? Karena kutu akan mengisap darah hewan yang ditumpangi, dengan cara merusak pembuluh darah terkecil (kapiler). Bagi hewan yang sensitif, rusaknya kapiler darah dan sekresi ludah kutu (yang mengandung neurotoksin) akan menimbulkan reaksi alergi, sehingga hewan bersangkutan akan memperlihatkan gejala kegatalan kulit. Hewan yang memiliki cukup banyak kutu akan menggigit-gigit, menggaruk-garuk serta menggosok kulitnya sehingga merusak lapisan luar kulit (epidermis) yang kemudian menimbulkan kerusakan (iritasi) pada kulit. Iritasi ini dapat meluas menjadi bentuk peradangan kulit yang bila tidak segera diobati akan menghasilkan bentuk klasik berupa rontoknya rambut yang secara nyata diikuti kebotakan dan penebalan kulit (hiperkeratosis). Akibatnya, selain kulit hewan kesayangan menjadi buruk dan rusak, iritasi lokal kulit akan menimbulkan infeksi yang mempermudah masuknya kuman penyakit seperti virus, jamur, parasit, dan infeksi bakteri.
Akibatnya, hewan menjadi tidak tahan terhadap penyakit, karena isapan darah oleh kutu dapat menyebabkan anemia, berat badan menurun, dan mengurangi nafsu makan selain mengganggu kegembiraan hewan itu sendiri.
Karena itu, bila anjing atau kucing memperlihatkan gejala kegatalan, sebaiknya kita mewaspadai adanya serangan kutu. Sebaiknya kita segera memisahkan anjing dan kucing yang terserang kutu itu dari yang sehat, karena ada beberapa jenis kutu hewan yang dapat terbang jauh dan menulari hewan kesayangan lainnya.

from : www.kittykrafty.com

_____sincerely______

Modal utama cara merawat kucing adalah kesabaran

Written By s'sinta on Senin, 10 November 2008 | 04.54

Hmm... mungkin sudah banyak orang tahu bahwa apapun pekerjaan yang kita lakukan. Ada satu hal penting yang harus kita punya yaitu kesabaran, Sehebat apapun anda itu tidak ada gunakanya jika anda tidak sabar.

begitu juga halnya dengan cara merawat kucing. Sedetail apapun anda mengetahui tentang kucing. Itu tidak ada artinya jika anda tidak pernah memiliki kesabaran.

Dari beberapa sifat kucing tentu ada yang bikin kita senang maupun bikin kita marah. Kucing adalah makhluk hidup seperti kita. Maka daripada itu dia butuh kasih sayang. Nah bagaimana kriteria yang bagus dalam menyangi kucing dengan sabar.

  • jangan marah jika kucing buang air besar sembaranagan. Sediakan tempat yang ada pasirnya. biasakan kucing anda untuk buang disana
  • Jangan marah jika cakar kucing anda ada di mana-mana. Itu hal biasa untuk menunjukkan daerah kekuasaannya.
  • Sediakan tempat makan dan minum yang tempatnya selalu sama. jadi si kucing tau tempat di mana dia akan makan.Bahkan kalau perlu pastikan waktu makan dan minum selalu sama setiap hari.
  • Selalu rawat bulu-bulunya
  • Jangan lupa untuk memomtong kukunya. yag 2 minggu sekali
  • Dan jangan lupa selalau belajar. karena perkembangan ilmu pengetahuan itu begitu pesat

Dan ingat jika anda tidak punya kesabaran jangan harap anda bisa melakukan hal-hal diatas. padahal hal-hal semacam itulah yang paling penting yang akan membuat si kucing happy dengan anda.

Kesabaran dan kesabaran. Jangan lupa yang bersabar membaca blog ini. he he he he

Oh ya maih ingat bahwa kucing itu penyuka daging, penyuka makanan enak-enak. Jangan lupa anda juga harus sabar merogoh kocek anda untuk membelikan makanan. Mengapa karena jika tidak di beri makanan bisa-bisa mati kan.

Camkap ini jika anda seorang catlover sejati. Biarpun setiap hari saya makan tempe... si kucing tidak boleh makan tempe harus makan daging. Harus dapat makanan paling enak. Saya akan membeli makanan kucing yang berharga mahal supaya di dia tetap bahagia.

Jika anda sudah bisa melakukan hal diatas. berarti anda orang paling sabar yang ada di dunia. (bercanda)

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Perawatan Kucing - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger